Pendiam itulah kesan yang terlihat dari sosok chef yang satu ini, pria kelahiran Bandung di tahun 1964 lalu memang kalem, beliau memiliki hoby menyetir keliling Dubai hanya untuk bersilahturahmi yang berbase camp di Singapore Deli di kawasan karamah,  restaurant yang menjual makanan Indonesia-Singapura, buktinya reporter bisa menemukan beliau disana. Di sela-sela rapat Lounching HIC di Dubai yang kebetulan dihadiri juga oleh Pak Aditya dari Jams World Wide Indonesia, reporter sengaja mengambil sesion ini, mumpung lagi break, tahun 1987 beliau mulai meniti karier di Phinisi Floating Restaurant Marina Ancol, Pizza Hut and Dairy Queen,  sebagai commi, di pertengahan tahun 1991 chef muda ini mencoba mengadukan keahliannya di singapore sebagai chef de partie di Singa Mas Restaurant. Telok Ayer, tak ayal lagi keahliannya memang boleh teruji, sehingga terbang jauh menjajal Royal Caribbean Cruise line ditahun 1993-1996, tamatan Balai Pendidikan Latihan Pariwisata Bandung angkatan 1984 akhirnya kembali berkarier di Indonesia, sebagai Chef de Cuisine di hotel Geulis Bandung tahun 2000, tapi tak lama jiwa muda chef  saat itu, berkeinginan untuk mengembangkan karier dan kemampuannya ini makin menjadi, kembali tahun 2001 beliau pergi ke Jeddah Hilton Hotel Saudi Arabia, sebagai Chef de Partie alhasil buahnya ia dapatkan juga, Chef Redi atau sering kita panggil kang Redi ini bertemu di dubai sebagai head chef di  yo ! SUSHI Japanese Restaurant, bekerja keliling untuk memantau outlet francise wilayah Midle East adalah bagian tugasnya, sebelumnya beliau mendapat training U.K sebagai pusat Francise, sedikit beliau bercerita “dulu banyak orang Indonesia yang bekerja di Yo Sushi seperti Vera, Tukul, Yandi (Restauarant Manager Singapore Deli), sekarang cuma tinggal saya, tunggal” tapi itulah kematangan dan sosok bijak chef ini memang boleh diacungkan jempol di mana beliau harus memimpin banyak staff dari berbagai negara. Artinya orang Indonesia itu mampu bersaing dengan negara lain. Tapi ko pa Redi memilih Speciality Japanese? “Apa ajalah saya mah, tergantung yang di Atas” ujar beliau sambil merendah, “yang penting dimana usaha itu ditekuni, buahpun akan kita petik” itulah resep utama Chef Redi Suhandi, yang sekaligus menjadi moto beliau, waktu menunjukan jam 1.00 pagi diluar pun sangat dingin sampai 17 derajat, dengan sangat baik beliau menawarkan jasa sekaligus  menyalurkan hobinya mengantar kita ke akomodasi. Terima Kasih Kang Redi, Sukses selalu.

CR  

Advertisements