Chef satu ini, lain lagi penampilannya walaupun sudah menginjak usia 51 tahun beliau selalu tampak segar, awet muda, agresif, kreatif dan humoris… selain itu beliaupun selalu bertebar ramah pada siapa saja dan selalu menjalin silahturahmi dengan teman lama ataupun teman yang baru dikenalnya. Tidak memandang dia adalah lebih tua dari pada yang lain, dia akan selalu menyapa dengan penuh keakraban.. selain itu penampilannya yang khas  adalah selalu dengan memakai celana jean  dan kaos polos saja sebagi cermin kesederhanaan beliau.

Wah kenapa sih ko chef edi jadi Jawara ? …. sssst sebentar, bukannya chef ini jago tarung atau jago benjang, lalu kenapa chef  menjadi jawara ? karena beliau sering  menjajal  beberapa restaurant dan hotel di kota Bandung…

Mari kita kupas sosok chef yang berpenampilan unik ini

Berawal dari tamat  kuliah di sekolah Pariwisata dan Perhotelan Trisula Bandung  tahun  1981, beliau memulai meniti karirnya di Riung Restaurant ( Restaurant Indonesia dengan pelayanan ala Prancis  ) lalu chef ini pindah ke Dai Shogun Japanese Restaurant sebagai cook pemula saja dengan dasar alasan hanya untuk menimba ilmu dan pengalaman yang semasa itu masih baru untuk chef muda ini. Tidak cukup dengan ilmu yang didapat saat  ini , chef mulai mengembangkan sayapnya untuk berkarir di Hotel Kumala Panghegar Bandung ( Sakura Japanese Restauant ) tahun 1985-1990, dengan semangat juang dan rasa ingin tahu lebih dalam mengenai seni memasak dia mencoba berjuang di PT Free Port, tak lama disana, chef  ini kembali ke Bandung untuk menuangkan pengetahuan yang di perolehnya di Hotel Preanger dan Hotel Horison Bandung .  Tiba saatnya, chef yang sudah mampu mengukur dirinya, mulai menjual keahlian nya menjadi chef yang profesional dan tidak bisa dianggap remeh, pucuk dicinta ulam pun tiba, chef ini berhasil menduduki top management dapur  di Hotel Jayakarta Bandung, karier semakin menanjak chef ini pun semakin menjadi-jadi,  sederetan karier Executive Chef  yang pernah dia duduki adalah di Hotel Putri Gunung Lembang, Hotel Topas Galeria Bandung, Grand Hotel Lembang, lalu kembali ke Hotel Putri Gunung Lembang, The Arjuna Bandung dan Grand Serela Bandung.

Seperti penulis katakan tadi,  walaupun chef sudah menuju umur kepala 5 saat itu tetap saja dia masih berusaha menjajal keahliannya  dikawasan arab tepatnya di Wafi City, Dubai UAE untuk pembekalan sebagai opening chef CHOP-CHOP, tugas chef ini  juga sangat berat harus memantau beberapa Oulet yang harus diawasinya ( Flaming wok, Simply Fresh dan Fish and Chips ) namun sayang Dunia terkena krisis Gobal, dunia hospitality semakin tidak menentu, dubai yang hanya mengandalkan incomenya dari pariwisata seolah padam tak bercahaya, dimana-mana hotel dan restaurant tutup, pemutusan hubungan kerja, proyek pembangunan di hentikan dan hal lainnya yang sangat mengerikan bagi dunia usaha… Dengan kemampuan dan kejeliannya menangkap situasi beliau mencoba hijrah ke Abudhabi negara tetangga yang masih dalam negara kesatuan emirate, apa sih yang tidak mungkin untuk senior chef yang satu ini beliau sekarang menjadi chef di Istana Raja H.H Seikh Sultan bin Zayed al Nahyan sebagai pemegang tahta  Asian Food di kerajaan tersebut.

Banyak sekali ilmu yang didapat dari beliau, bayangkan  penulis menghabiskan wawancara ini hampir separuh waktu subuh di Abudhabi,   diselingi  petuah yang membangun serta  ilmu dapur yang bermanfaat,  canda hangat membuat waktu berlalu sangat cepat hingga rasa ngantuk juga sirna.

Pada sesion penutup ini  Chef Eddie Supriadi memberikan sebuah  moto ” Carilah ilmu sebanyak-banyaknya karna ilmu tidak akan sesaat” artinya pada saatnya nanti akan selalu terpakai bagi siapa yang memerlukan dan kita lah yang harus memberikan ilmu tersebut..

– CR –

Advertisements